
Bayangkan suara radio yang masih setia menemani perjalanan pagi hingga malam hari, di tengah banjir konten digital yang serba cepat dan instan. Di balik mikrofon itu, ada Rizal Alhaque, pria asal Cianjur yang lahir pada 6 April 1986, yang telah lebih dari 14 tahun mendedikasikan hidupnya di dunia penyiaran. Namun, yang ia lakukan bukan sekadar menyampaikan berita atau mengisi ruang, tetapi ia menjadikan radio sebagai media dakwah yang penuh makna.
Pria 40 tahun ini, praktisi komunikasi sekaligus dosen, meniti perjalanan kariernya melalui jalur pendidikan dan pengalaman yang konsisten di bidang penyiaran dan dakwah. Ia mengawali pendidikannya di Pondok Pesantren Al-Fatah Muhajirun, Lampung, yang membentuk dasar keilmuan dan nilai-nilai keislamannya.
Kemudian, pada tahun 2005, ia melanjutkan studi di jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) STAI Al-Fatah Cileungsi. Dari sinilah ketertarikannya terhadap dunia komunikasi dan penyiaran semakin terarah, hingga mengantarkannya menjadi sosok yang aktif menggabungkan praktik komunikasi dengan misi dakwah melalui media. Bekal tersebut kemudian ia terapkan ketika bergabung dengan Radio Silaturahim (Rasil) pada tahun 2011.
Latar belakang keluarga yang lekat dengan dunia pendidikan turut memberi warna dalam perjalanan kariernya. Tradisi mengajar yang diwarisi dari lingkungan keluarga mendorongnya untuk tidak hanya berkarya di dunia penyiaran, tetapi juga berkontribusi dalam bidang akademik. Setelah menyelesaikan studi S2 Komunikasi di Universitas Muhammadiyah Jakarta, ia kembali ke kampus lamanya sebagai dosen. Peran ini ia jalani dengan komitmen untuk terus belajar sekaligus berbagi, mengombinasikan teori dengan pengalaman lapangan.
Pesan yang ia sampaikan kepada pelajar dan generasi muda terasa sederhana, namun sarat makna. Ia mengingatkan bahwa pilihan yang diambil hari ini akan menentukan arah masa depan. “Pilih jalan yang sulit di awal, agar ke depan menjadi lebih ringan. Jika sejak awal memilih yang mudah, justru kesulitan bisa datang kemudian,” ujarnya dengan tenang namun tegas.
Kini, di usia 40 tahun, konsistensinya tetap terjaga. Baik di balik mikrofon maupun di ruang kelas, ia terus menjalankan peran yang sama yaitu menyampaikan ilmu dan nilai kebenaran melalui berbagai medium. Baginya, di mana pun berada, komunikasi bukan sekadar profesi, tetapi juga sarana untuk menghadirkan manfaat yang berkelanjutan. [Annisa Widya Putri]