Oleh: Luthfi Muhammad Abduh
Setiap orang memiliki cerita perjalanan hidup yang unik, termasuk Anwar Halim Hasibuan. Seorang pemuda asal Aceh yang kini berusia 23 tahun. Lahir di Kabupaten Langkat, wilayah perbatasan antara Aceh dan Medan, Anwar menjalani kehidupan yang penuh perjuangan, terutama dalam menempuh pendidikan jauh dari keluarga. Sejak kecil, Anwar sudah terbiasa hidup merantau. la menyelesaikan pendidikan sekolah dasar di Aceh Timur hingga lulus pada tahun 2015. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke jenjang Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah di sebuah pondok pesantren di Lampung Selatan. Kehidupan di pesantren membentuk karakter Anwar menjadi pribadi yang mandiri dan tangguh. Saat ini, ia melanjutkan studinya di Sekolah Tinggi Agama Islam dengan mengambil program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam. Selain kuliah, Anwar juga aktif dalam berbagai kegiatan sehari-hari. Pagi harinya diisi dengan membantu aktivitas di kantor maktab, seperti menerima tamu dan menjaga kebersihan. Siang hari digunakan untuk mengikuti perkuliahan, sementara sore hingga malam ia mengabdikan diri dengan mengajar Al-Qur’an di tingkat Madrasah Aliyah. Rutinitas ini menunjukkan semangat dan dedikasi tinggi dalam menjalani kehidupan. Salah satu pengalaman paling berkesan bagi Anwar adalah saat ia aktif dalam kegiatan pencak silat di masa sekolah. Sejak tahun 2016, ia mulai mendalami seni bela diri tersebut. Baginya, pencak silat bukan hanya sekadar olahraga, tetapi juga bagian dari menjaga kesehatan sebagaimana dianjurkan dalam ajaran Islam. Kegiatan ini menjadi momen yang menyenangkan sekaligus berharga dalam hidupnya.
Namun, perjalanan hidup tidak selalu berjalan mulus. Anwar juga pernah mengalanmi masa sulit, terutama saat menjalani kehidupan di pesantren. Dalam menghadapi masa tersebut, ia berpegang pada nasihat gurunya untuk tidak meninggalkan sholat malam. la merasakan bahwa dengan menjaga ibadah dan terus berdoa, urusan hidup menjadi lebih mudah. Dari pengalaman itu, ia belajar pentingnya kesabaran, doa, dan rasa syukur. Di usia yang sekarang, Anwar memiliki harapan dan tujuan untuk mas a depan. la ingin meningkatkan kemampuan komunikasi, sejalan dengan jurusan yang sedang ia tempuh. la juga membuka kemungkinan untuk terjun ke dunia bisnis, khususnya di bidang perdagangan dan peternakan. Baginya, kemampuan komunikasi menjadi bekal penting untuk menghadapi dunia kerja maupun usaha. Meski demikian, Anwar juga menyadari ada hal yang ia sesali di masa lalu, yaitu kurangnya perhatian terhadap pelajaran bahasa Inggris. la mengaku jarang mengikuti pelajaran tersebut saat sekolah, sehingga kini ia memiliki keinginan kuat untuk memperbaikinya di masa depan. Ketika ditanya tentang arah hidupnya, Anwar merasa bahwa saat ini ia sudah berada di jalur yang tepat. Namun, ia juga menyadari bahwa masa depan tetap berada di tangan Tuhan. Oleh karena itu, ia menjalani hidup dengan penuh harapan dan tetap terbuka terhadap kemungkinan yang akan datang. Kisah Anwar Halim Hasyibuan menjadi gambaran nyata tentang perjuangan seorang anak muda dalam meraih pendidikan, menghadapi tantangan hidup, serta terus berusaha memperbaiki diri. Dengan semangat, doa, dan kerja keras, ia terus melangkah menuju masa depan yang lebih baik.